Rabu, 12 Desember 2012

Menjaga Kesehatan Reproduksi Wanita

Apabila Anda seorang wanita yang telah memasuki usia kematangan seksual maka menjaga kesehatan reproduksi adalah suatu hal yang penting. Pada usia tersebut Anda dianjurkan untuk melakukan pendeteksian dini terhadap kanker atau kista pada bagian reproduksi atau papsmear. Bila tidak dijaga dan dirawat dengan baik, organ reproduksi wanita mulai dari vagina hingga rahim sangat rentan untuk terkena berbagai macam gangguan kesehatan.
Gangguan yang umum terjadi pada hampir setiap wanita adalah keputihan. Apabila vaginitis dibiarkan berlarut larut akan dapat mengganggu kesuburan bahkan hingga memicu kanker serviks atau kanker mulut rahim. Keguguran janin di dalam rahim sering terjadi akibat Kista dan Mioma yang tidak terdeteksi. Pada stadium lanjut, kista atau mioma tersebut harus diangkat melalui operasi. Jadi jangan anggap sepelekesehatan reproduksi Anda yaa…. :)
Kesehatan Reproduksi Wanita
Kesehatan Reproduksi Wanita
Banyak sebab yang dapat mengganggu kesehatan reproduksi wanita, akan tetapi penyebab yang paling umum adalah pola makan yang kurang sehat karena mengkonsumsi terlalu banyak lemak dan kebersihan yang kurang higienis. Akan tetapi kanker serviks dan kista bisa saja dipicu oleh faktor genetis.
Saat ini sudah banyak produk yang bisa Anda gunakan untuk merawat kesehatan  reproduksi Anda. Anda bisa memilih produk kesehatan reproduksi yang sesuai dengan Anda atau terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter Anda.
Produk-produk kesehatan reproduksi tersebut biasanya mempunyai beberapa manfaat sekaligus, diantaranya untuk:
1. Mengaktifkan dan melenturkan kembali otot vagina.
2. Menambah kepekaan vagina terhadap daya rangsang.
3. Membantu menghilangkan bau tidak sedap divagina.
4. Membuat aroma vagina menjadi lebih menyegarkan.
5. Membunuh kuman atau bakteri merugikan.
6. Mencegah dan menyembuhkan keputihan.
7. Membersihkan kerak atau kotoran di selaput vagina.
8. Menyembuhkan iritasi diselaput vagina.
9. Mencegah terjadinya kanker alat reproduksi wanita.
Mencegah adalah tindakan yang paling cerdas saat Anda berurusan dengan kesehatan reproduksi. Sesal kemuadian tiada guna……..

Mengatasi Dehidrasi pada Bayi

Tindakan utama yang harus Anda lakukan untuk mengatasi bayi yang mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan adalah sesegera mungkin mengganti cairan tubuhnya yang banyak keluar. Caranya, beri bayi minum yang sebanyak-banyaknya.

Cairan yang Anda berikan dapat berupa air putih biasa, jus buah, es krim, atau bentuk cairan lainnya. Yang penting, berikan jenis cairan yang sesuai dengan kondisi kesehatan tubuh bayi. Misalnya, kalau ia sedang pilek, jangan berikan es krim.

Kapan bayi harus dibawa ke dokter? Saat bayi diare dan muntah-muntah. Jika ia mengalami diare dan tetap memuntahkan cairan yang Anda berikan, maka tubuhnya akan tetap mengalami dehidrasi. Keadaan ini jelas tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Biasanya, dokter akan menggantikan cairan tubuh bayi via infus.

Kiat menghindari. Mencegah memang selalu lebih baik dari mengobati. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya dehidrasi pada balita Anda.
  • Biasakan si kecil untuk minum secara teratur setiap hari, terutama bila bayi banyak beraktivitas. Cairan yang dikonsumsi sebaiknya diatur agar bervariasi.
  • Anak harus minum air paling tidak 8 gelas sehari. Anda dapat memberinya dalam bentuk kombinasi aneka jenis cairan, seperti jus buah, buah segar, sup, dan lain-lain.
  • Berilah minuman sebelum balita Anda mulai beraktivitas, seperti bermain di halaman.
  • Tetaplah beri minuman pada bayi, sekalipun dia tidak begitu haus.
  • Jangan beri anak minuman yang mengandung kafein, misalnya es teh dan minuman jenis softdrink yang mengandung soda, terutama ketika bayi sedang giat-giatnya beraktivitas dan banyak mengeluarkan keringat. Kenapa? Kafein dapat menambah beban pada aliran darah. Akibatnya, darahnya jadi kental dan produksi keringat pun berkurang.
  • Bila udara panas dan cuaca terik, hentikan aktivitas anak sejenak. Bila mungkin, lakukan selama beberapa kali. Sambil beristirahat di tempat yang sejuk, biarkan bayi mengonsumsi berbagai cairan.
  • Beri pertolongan pertama, berupa larutan oralit, bila bayi muntah atau diare

Cara Merawat BBLR

Bayi merupakan makhluk yang sangat peka dan halus. Apakah bayi itu akan terus tumbuh dan berkembang dengan sehat, sangat bergantung pada proses kelahiran dan perawatannya. Tidak saja cara perawatannya, namun pola pemberian makan juga sangat memengaruhi perkembangan dan pertumbuhan bayi (Departemen Kesehatan RI, 1995).

Bayi adalah anak yang berusia 0-12 bulan. Bayi dapat dikelompokkan menjadi tiga: bayi cukup bulan, bayi prematur, dan bayi dengan berat bayi lahir rendah (BBLR). Bayi cukup bulan adalah bayi yang termasuk dalam kelompok kelahiran normal, yaitu kelahiran bayi secara alami tanpa bantuan suatu alat apa pun atau tanpa operasi. Usia kehamilan secara normal berkisar sembilan bulan sepuluh hari. Masa kehamilan lebih dari sepuluh hari atau kurang dari sembilan bulan disebut kehamilan tidak normal (Departemen Kesehatan RI, 1995). Bayi prematur adalah bayi lahir tidak cukup bulan. Adapun bayi berat badan lahir rendah (BBLR) atau low birth weight adalah yang bobotnya kurang dari 2500 gram. BBLR disebabkanoleh kelahiran tidakcukup bulan (prematur), cukup bulan tetapi kecil (proporsional), dan IUGR (intro-uterine growth retardation).

Cara merawat BBLR lebih dari 1500 g dan kurang dari 2500 g di rumah adalah sebagai berikut.
1. Segera setelah bayi lahir, tubuh bayi dilap dengan kain lembut yang bersih dan kering untuk membersihkannya dari kotoran (air ketuban, darah dan lendir). Bayi tidak dimandikan.
2. Setelah tali pusat dipotong, bayi dibungkus dengan kain yang bersih, kering, dan cukup tebal agar ia tidak kedinginan. Kepala ditutup dengan topi atau tutup kepala yang bersih.
3. Setiap kali bayi kencing/pakaiannya basah, pakaian harus segera diganti supaya tidak kedinginan.
4. Setiap hari bayi dibersihkan dengan kain bersih yang diolesi minyak kelapa atau minyak goreng lain yang sudah dihangatkan.
5. Setelah 3-7 hari atau bila bayi sudah tampak lebih kuat (salah satu tandanya dapat minum lebih baik), bayi dapat dibersihkan/diseka air hangat.
6. Berikan air susu ibu (ASI) secepatnya setelah lahir dan setiap harinya diusahakan sesering mungkin, tetapi dengan porsi yang kecil sesuai dengan kemampuan bayi. Bayi dijaga jangan sampai tersedak.

Upaya mencegah kejadian bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) adalah:
1. Menjaga agar ibu hamil makan lebih banyak atau 1 kali lebih sering daripada sebelum hamil.
2. Memeriksakan kehamilan secara teratur, minimal 4 kali selama hamil, yaitu 3 bulan pertama kehamilan minimal 1 kali; 3 bulan kedua kehamilan minimal 1 kali; dan 3 bulan ketiga kehamilan minimal 2 kali. Bila berat badan ibu naik di bawah 1 kg per bulan, ibu perlu segera ke Puskesmas.
3. Menghindari kerja berat yang melelahkan dan mendapat istirahat yang cukup selama hamil.

Anak yang kecil, organ tubuhnya juga kecil, 10-17% defisit sel otak. Apabila ibu tidak memberi makan anaknya dengan baik, defisit sel otak meningkat menjadi 30-40%. Selain defisit sel otak, anak-anak yang lahir sebagai BBLR juga mengalami defisit simpanan zat gizi sehingga mudah sakit dan memerlukan waktu yang relatif panjang untuk penyembuhannya. Oleh karena itu, ibu perlu memberi makanan yang baik agar anak dapat mengejar ketinggalannya (catch up). Tanda-tanda bayi lahir sehat adalah,
1. Segera menangis
2. Pernapasan teratur
3. Banyak bergerak
4. Warna kulit merah muda
5. Berat badan 2,5 kg atau lebih.

Hasil penelitian modern (jumlah sampel banyak dan menggunakan kaidah statistik) yang dilakukan oleh W.T. Portier pada tahun 1885 menunjukkan bahwa rata-rata nilai rapor sekolah lebih baik pada anak-anak yang berat badan lebih berat daripada berat badan yang lebih ringan.

Setelah usia 6 bulan, bayi sangat membutuhkan makanan tambahan untuk tumbuh dan menjadi lebih aktif. Air susu ibu (ASI) raja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Dengan demikian, makanan tambahan diberikan untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan nutrisi total pada anak dan jumlah yang didapatkan dari ASI (World Health Organization, 2003). Usia 6-11 bulan merupakan periode emas sekaligus kritis dalam proses tumbuh kembang bayi, baik fisik maupun kecerdasan.

Salah satu penyebab terjadinya gangguan tumbuh kembang pada periode tersebut adalah rendahnya mutu makanan pendamping ASI (MP-ASI) (Depertemen Kesehatan RI, 2003). Untuk mendapatkan mutu makanan yang baik, pendidikan gizi jauh lebih efektif dibandingkan dengan suplementasi makanan dan integrasi pelayanan kesehatan dasar maupun subsidi pangan (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, 2004).
Blacy Smiley - Girl